Memperkuat Akidah dengan Tauhid Tasawuf

KWPSI.ORG -- Tauhid adalah perkara yang paling pokok dalam Islam yaitu mengesakan Allah dalam ibadah. Ini adalah makna dari La Ilaha Illallah yaitu tidak ada yang paling berhak disembah selain Allah.

Tidak akan diterima suatu amal ibadah kecuali harus dilandasi dengan tauhid. Jika tauhid seseorang baik maka masalah ibadah, muammalah, akhlak dan perkara lainnya juga akan baik. Orang yang bertauhid pasti akan menghidari kesyirikan baik syirik khafi (syirik tersembunyi) lebih-lebih syirik jali (syirik terang-terangan). Allah akan memberi ampunan atas dosa-dosanya, dan jika tauhid seseorang lurus kepada Allah semata, maka dia pasti dimasukkan ke dalam surga seluas langit dan bumi.

Pimpinan Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyah Pango Raya, Tgk. H. Syukri Daud Pango mengungkapkan, tauhid terbagi dalam tiga tingkatan mulai dari dari yang paling rendah yaitu tauhid orang awam, hingga tauhid orang yang yang bertasawuf dan telah bertasawuf sebagai tingkatan yang paling tinggi yaitu para sufi.

"Tauhid ini intinya adalah bersih Allah dari teman. Manusia dimana pun berada di dunia ini terutama umat Islam, dewasa ini wajib diperbaiki dan dibina tauhidnya untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat yang abadi dengan tauhid tasawuf," ujar Tgk Syukri Daud saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Rabu (12/12) malam.

Dijelaskannya, tauhid bagi orang yang belum bertasawuf yang disebut dengan tauhid aqidah, untuk mensahkan iman dengan jalan mengenal sifat-sifat Allah yang telah disebutkan dalam Alquran dan Hadits, bersih Allah dari menyerupai makhluk. Dalilnya adalah segala berwujud atau makhluk yang dapat kita peroleh dengan panca indera seperti langit dan bumi‎ yang menunjuki adanya keesaan Allah.

"Tauhid aqidah ini hanya untuk mensahkan kita sebagai mukmin percaya kepada enam rukun iman dan kita telah sah menjadi muslim. Dengan tauhid seperti ini, kita belum dapat berakhlak dengan baik karena masih banyak tersangkut hatinya kepada selain Allah," jelasnya.

Dalam ‎tauhid aqidah semata, antara seorang muslim dengan Allah dia juga masih ada terhijab dengan alam/makhluk. Misalnya, masih lebih yakin menang atau kalah dalam Pemilu karena dipilih masyarakat‎ bukan langsung mengakui karena kehendak Allah. Begitu juga dapat jabatan atau kesenangan lain, tidak langsung teringat karena Allah tapi lebih dulu tertuju kepada makhluk-makhluk Allah.

Maka untuk lebih memperkuat tauhid akidah dan langsung yakin segala sesuatu yang terjadi di dunia atau didapatkan baik senang maupun susah karena ada kehendak Allah semata, kita memerlukan tauhid tasawuf.

‎"Tauhid tasawuf ini untuk memperkuat tauhid akidah, agar langsung masuk ke dalam hati, tidak sekedar percaya dan yakin saja dalam pemahaman. Karena mereka ini setelah berakidah dan mengamalkan hukum syariat dengan baik, kemauannya selalu untuk mendekati Allah, menghilangkan sangkutan hati dari dunia yang fana," terang Abu Pango.

Maka orang-orang ini yang dapat berakhlak mulia seperti kesabaran, tawadhu', taat dan patuh pada Allah. Tidak terhijab lagi Allah dengan nafsunya dan makhluk-makhluk lainnya.

"Maka dunia yang bersarang dalam batinnya sebagai penyebab kemaksiatan dan kemunkaran sudah mulai terhapus dan hilang, memudahkan baginya melaksanakan amal saleh, berkasih sayang sesamanya, mudah memaafkan karena Allah, dan akhirnya terwujud persatuan umat sehingga akan menimbulkan kekuatan dan kebesaran Islam dimanapun berada. Maka sangat perlu kita memahami ajaran tauhid tasawuf agar iman kita tidak sekedar sebatas ilmu dan akal saja," jelas Koordinator Majelis Rateb Seribee Banda Aceh - Aceh Besar ini.

Sedangkan tingkatan tauhid ketiga yang paling tinggi adalah tauhid bagi orang yang telah bertasawuf atau tauhid jam'iy. Mereka-mereka ini dikatakan telah mencapai makam ma'rifat yang hakiki. "Ini adalah tauhidnya para sufi dan para sahabat di zaman Rasul yang sangat tinggi nilainya dalam pandangan Allah," pungkas Tgk. Syukri.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.