‎Tauhid yang Benar Syarat Diterima Ibadah



KWPSI.ORG -- Tauhid merupakan ilmu yang paling penting dan pokok bagi setiap muslim yang beriman kepada Allah SWT sebagai Sang Pencipta semua makhluk. Ini juga menjadi prasyarat utama agar ibadah kita diterima oleh Allah. 

Diantara pembahasan ilmu tauhid yaitu mencakup tentang iman kepada Allah, iman kepada Rasulullah dan risalah yang dibawa oleh Rasulullah. Pentingnya ilmu tauhid ini sebagaimana sabda Rasulullaah yang artinya‎, "Paling utama amal-amal perbuatan adalah beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya.

Demikian disampaikan Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi Aceh, Ustaz Dr Moch. Fajarul Falah MA‎ saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (27/9/2017) malam.

"Ibadah kita baru diterima oleh Allah jika memiliki aqidah dan tauhid yang benar, beriman kepada Allah dengan lurus, meyakini Allah itu ada tanpa tempat dan tanpa arah. Jika iman seperti itu, maka menjadi selamatlah ibadah kita dan diakui ibadah kita," ujar Ustaz Fajarul Falah yang juga Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Arab Pascasarjana UIN Ar-Raniry ini.

Ia menambahkan,‎ memahami ilmu tauhid dengan pemahaman yang benar sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah, para sahabatnya, ulama salaf maupun khalaf, menjadi penting, agar tumbuh keimanan yang kokoh dan pada akhirnya akan berbuah akhlak yang mulia serta taat beribadah kepada Allah. 

Pada pengajian KWPSI tersebut, Ustaz Fajarul juga mengkaji Kitab Ash-Shirat Al-Mustaqim karya Al-Hafidz Abdullah Al-Harary Rahimahullah, yang membahas tentang keimanan kepada Allah dengan tema Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.

Menurutnya, Allah adalah Tuhan satu-satunya pencipta makhluk. Keberadaan Allah tanpa permulaan maksudnya adalah adanya Allah tidak didahului dengan ketiadaan. Sedangkan makhluk diciptakan oleh Allah dari tidak ada menjadi ada, artinya makhluk itu memiliki sifat berubah. Dan berubah itu merupakan ciri terkuat makhluk. 

Dari sini dapat dipahami Allah berbeda dengan makhluk ciptaannya. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Asy-Syura ayat 11 yang artinya yang artinya, "Allah tidak serupa (berbeda) dengan sesuatu apapun selain-Nya (makhluk) dari semua segi, dan Dia (Allah) maha mendengar lagi maha melihat".

Di samping itu, Allah tidaklah membutuhkan kepada semua makhluk-Nya. Sedangkan makhluk-Nyalah yang butuh kepada-Nya. Allah bukanlah jisim (benda). Jisim adalah segala sesuatu yang memiliki dimensi panjang, lebar dan kedalaman (berbentuk). 

Jisim dibagi dua. Pertama, Jisim/Benda katsif (benda yang dapat dipegang oleh tangan) seperti matahari, bulan, arsy, langit, bumi, manusia, hewan, tumbuhan dan lainnya. Kedua Jisim/Benda lathif (benda yg tidak dapat dipegang oleh tangan) seperti malam hari, siang hari, angin, cahaya, kegelapan, ruh dan lainnya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Anbiya ayat 33 yang artinya, "Dan Dia (Allah) yang telah menciptakan malam hari, siang hari, matahari dan bulan, kesemuanya berada pada tempat edarnya masing-masing.

Semua makhluk pastilah memiliki bentuk dan ukuran. Setiap yang berukuran pastilah membutuhkan kepada yang menetapkan bentuk dan ukurannya seperti itu sehingga tidak berbentuk dan berukuran selainnya. Sesuatu yang membutuhkan kepada yang lain adalah lemah, dan sesuatu yang lemah tidak layak menjadi Tuhan. 

Begitu juga matahari yang disembah oleh sebagian orang kafir, maka dianya tidaklah layak untuk dijadikaan Tuhan. Karena matahari dan penyembahnya sama-sama memiliki ciri-ciri makhluk, yaitu berubah dan berbentuk. Dan yang demikian itu mustahil dapat menciptakan dirinya sendiri. Sehingga jelaslah Allah tidaklah berbentuk dan berukuran karena Allah adalah pencipta. 

"Dalam ayat tersebut juga dapat kita pahami, setiap yang berbentuk dan berukuran (jisim/benda) pastilah bertempat dan terkena arah mata angin. Karena definisi tempat (al-makan) adalah ruang kosong yang dihuni oleh benda," terang Ketua Yayasan Syahamah Aceh ini.

Dan yang bertempat pastilah terkena arah mata angin (depan, belakang, samping, atas dan bawah). Sedangkan Allah bukanlah enda, sehingga tidak menempati tempat dan tidak terkena arah mata angin. Disamping itu, tempat dan arah itu adalah makhluk ciptaan Allah. Dan Allah tidak butuh kepada makhluk-Nya. 

Keberadaan Allah tanpa tempat dan tanpa arah telah dijelaskan oleh sabda Nabi yang artinya, "Allah ada tanpa permulaan dan tidak ada sesuatupun yg menyertai keberadaannya. 

Para ulama memahami hadits ini bahwa Allah telah ada tanpa permulaan dan tidak ada sesuatupun dari makhluk-Nya menyertai keberadaan Allah, baik arasy, langit, bumi, matahari, bulan, malaikat, jin, syeitan, manusia, udara, gelap, terang, tempat, waktu dan lainnya, karena semua makhluk belum diciptakan oleh Allah.

Di samping itu, Al-Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya Al-Asma’ Wa Al-Sifat menyatakan, “Sebagian sahabat kami cukup menggunakan dalil dalam menafikan (meniadakan) tempat bagi Allah dengan sabda Rasulullah: “Engkaulah (Allah) yang dhahir (adanya/terciptanya makhluk itu menunjukkan adanya Allah), maka tidaklah ada sesuatupun di atas-Mu, dan Engkaulah (Allah) yang batin (imajinasi pikiran tidak dapat membayangkan Allah), maka tidak ada sesuatupun di bawahmu”.  

Apabila tidak ada sesuatupun baik di atas maupun di bawah Allah, maka berarti Allah tidak berada di tempat apapun. Sehingga tidak benar jika ada yang menyatakan Allah bersemayam di atas arasy, tapi benar adalah Allah menguasai arasy.

‎Jadi aqidah Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah merupakan aqidah yang dibawa oleh Rasulullah, dan diajarkan kepada para sahabatnya, diturunkan kepada para ulama salaf dan khalaf, dan sampailah kepada kita sekarang. 

"Semoga kita dapat mempertahankan dan mewariskan aqidah ini hingga anak cucu kita, terutama di masa yang penuh dengan fitnah dan cobaan bagi umat Islam sekarang ini. Hanya kepada Allahlah kita berserah diri dan berlindung dari godaan syetan yang terkutuk,"‎ terang Wakil Ketua Syuriah PCNU kota Banda Aceh ini.
Diberdayakan oleh Blogger.