Toleransi Sesama Muslim Memperkuat Umat

KWPSI.ORG - -  Tasamuh atau sikap toleransi yang saling menghargai terhadap sesama muslim‎ sangat dianjurkan dalam Islam untuk mempererat silaturrahmi sebagai salah satu kekuatan dalam menjaga persatuan di tengah umat‎.

‎Karena di samping sebagai tuntutan sosial juga merupakan wujud persaudaraan yang terikat oleh tali aqidah yang sama. Bahkan dalam hadits nabi dijelaskan bahwa seseorang tidak sempurna imannya jika tidak memiliki rasa kasih sayang dan tenggang rasa terhadap saudaranya muslim.

Hal itu disampaikan Drs. Tgk. H. Mukhlis Hasan, Kasi Sistem Informasi Bidang Pendidikan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Aceh, saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Rabu (15/2/2017) malam.

"Islam mengajarkan bahwa sesama muslim harus bersatu serta tidak boleh bercerai-berai, bertengkar, dan bermusuhan. Karena sesama muslim adalah saudara. Terhadap pemeluk agama lain saja kita diperintahkan bersikap tasamuh, apalagi sesama muslim. Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu, sehingga mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri," ujar Tgk Mukhlis yang juga pengurus Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia (Bakomubin) Aceh. 

Disebutkannya, umat Islam semakin hari memang kian banyak jumlahnya, namun semakin lemah di mata dunia. Hal itu antara lain disebabkan sedikit perbedaan, sudah langsung putus silaturrahmi.

"Contoh, kita baru saja ikut Pilkada baik pemilihan gubernur maupun bupati/walikota sesuai tempat tinggal kita. Walau beda pilihan, tapi silaturrahmi kita tidak boleh putus. Semua calon itu adalah putra terbaik di daerah kita‎," terangnya.

Begitu juga dalam hal pengamalan ibadah sesama muslim, juga dianjurkan untuk saling menghargai jika ada sedikit perbedaan dalam jangan sampai menimbulkan perpecahan umat dan merusak silaturrahmi.

‎Sikap tasamuh ini, juga diajarkan Allah SWT dalam Alquran Surat Al Fath ayat 29 yang artinya:

Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap tegas terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang sesamanya, kamu melihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia dan keridhaan Allah, pada wajah mereka tampak tanda bekas sujud".

"Pada ayat ini, Allah memerintahkan kita menghargai dan berkasih sayang sesama muslim karena sesama muslim adalah saudara. Sementara terhadap pemeluk agama lain, kita diperintahkan agar bersikap tasamuh, hanya terbatas pada urusan yang bersifat duniawi, tidak menyangkut masalah akidah, syariah dan ubudiyah," tegas Tgk Mukhlis yang juga pengurus MIUMI Aceh ini.

Untuk mempersatukan dan mempererat silaturrahmi kaum muslimin dalam menyukseskan syariat Islam khususnya di Aceh, sangat penting sikap tasamuh ini ini dengan beberapa cara.

Pertama,‎ kita memupuk kasih sayang sesama muslim, sebagaimana dipraktekkan Nabi Muhammad dan para sahabat 14 abad yang silam, tegas terhadap orang kafir, dan tidak bersikap sebaliknya. Sehingga tidak, terlalu cepat meng‎kafirkn saudaranya yang belum tentu kafir.
 

"Menurut hadis saheh, kalau kita kafirkan orang mukmin, maka kafir itu akan kembali kepada kita sendiri, apalagi yang kita kafirkan itu orang taqwa, demikian juga tidak terlalu mudah membid'ahkan‎  amalan saudara kita yang mungkin masih kurang ilmu agama dan pemahamannya," jelasnya.

Kedua, gali dan pelajari ilmu agama Islam sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya karena ilmu agama Islam semakin digali ia semakin dalam dan semakin dipelajari ia semakin luas, seluas lautan bahkan lebih luas dari itu. 

Ketiga, pahami pendapat orang lain dengan tidak bersifat sombong, karena sifat itu membawa kita ke neraka. Dalam hadits saheh diriwayatkan Imam Bukhari & Muslim, Nabi bersabda: "Tidak masuk surga siapa yang dalam hatinya ada sifat sombong sebesar biji sawi. Seorang sahabat bertanya, Ya Rasulullah, bukankah seseorang suka bajunya rapi, cantik dan sepatunya mengkilat. Nabi menjawab, sesungguhnya Allah itu maha indah dan suka yang indah-indah. Yang dinamakansombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan/melecehkan orang lain. Mungkin saja amalan/pendapat saya benar, namun pendapat/amalan orang lain

belum tentu salah, atau mungkin juga‎ amalan saya belum tentu benar dan amalan orang belum tentu salah".

‎Dalam hal ini juga perlu banyak guru tempat kita belajar ilmu agama, agar tidak muncul fanatik yang berlebihan dan saling menghargai dalam perbedaan cara beribadah sepanjang mempunyai dalil-dalil yang kuat. "Bisa saja kita di Aceh saat ini kita perlu suatu qanun tentang tasamuh dalam beribadah guna menghindari perpecahan umat dengan pemaksaan suatu pemahaman," katanya.

"Pesantren kita mungkin baru ngaji kitab, belum mengkaji kitab, katanya ngaji kitab adalah baca kitab dan terjemahan, kesimpulanpun berbeda- beda, sedangkan mengkaji kitab adalah membaca, menerjemahkan dengan memperhatikan kalimat yang digunakan oleh pengarang dan menyimpulkan, setelah itu membandingkn apakah ia cocok dengan Alquran dan Hadits atau tidak? Kalau cocok, jadikan ilmu, diamalkan dan disosialisasikan kepada masyarakat Islam lainnya, jika tidak cocok, cukup jadi ilmu, tidak perlu diamalkan dan tidak perlu disosialisasikan," jelasnya.‎

Diberdayakan oleh Blogger.