Jadikan Agama Kebutuhan Hidup, Bukan Kewajiban

KWPSI.ORG -- Salah satu bentuk kebaikan dan kasih sayang Allah kepada makhluk ciptaan-Nya yang berwujud manusia ini adalah diturunkannya agama Islam yang berisi segala hal menyangkut tujuan diciptakannya manusia serta bagaimana seharusnya mereka berbuat sesuai dengan tujuannya itu. 

Karenanya memahami dan menjalankan agama menjadi hal penting bagi manusia sebagai suatu kebutuhan hidup, bukan hanya sekedar kewajiban. Bahkan untuk mengetahui tolak ukur nilai kebaikan Allah yang ada pada manusia terletak pada pemahaman akan agamanya.

Demikian antara lain disampaikan Drs. Tgk. H. Tarmizi Dahmi saat saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) dengan tema "Agama sebagai kebutuhan hidup" di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Rabu (31/8) malam

‎"Memahami dan menjalankan semua perintah Allah dalam agama  benar-benar menjadi kebutuhan setiap individu muslim, bukan saja kewajiban. Jika seluruh individu muslim memiliki pengetahuan agama yang cukup maka kebangkitan Islam akan semakin dekat diraih. Kemenangan apapun bentuknya tidak akan tercapai jika kita jauh dari agama, dan hal ini sudah terbukti dalam catatan sejarah Islam," ujar Tgk Tarmizi Dahmi, yang hingga kini masih aktif berdakwah di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar sekitarnya.

Menurut Wakil Ketua Majelis Syuro Daerah Perti Aceh ini, dengan menjadikan agama sebagai kebutuhan hidup sehari-hari, maka nilai-nilai ajaran agama akan dilakukan dengan penuh keikhlasan tanpa adanya keterpaksaan. Ibarat anak kecil yang disodori makan, dia kerap menolak karena makan seperti menjadi kewajiban baginya. Tetapi, pada orang dewasa yang sadar bahwa makan sebagai kebutuhan, tanpa disuruh pun mereka akan makan.

"Kalau ada orang shalat yang harus disuruh-suruh, itu masih seperti analogi anak-anak. Selain diajarkan dalam mata pelajaran, agama harus include ke dalam amal kita sehari-hari seperti yang jika kita tidak melaksanakannya, maka membuat kita gelisah karena takut pada Allah," jelas mantan Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry ini.

Tgk. Tarmizi menambahkan, agama diturunkan Allah untuk mengatur kehidupan di muka bumi ini sehingga konsekuensinya adalah Allah memberikan balasan di dunia dan akhirat.

Ketika seseorang menjalankan agama dengan baik dan sungguh-sungguh maka pahala itu tidak sebatas menunggu di akhirat kelak, tapi seiring ia tunduk kepada agama Allah maka akan segera meraih keberuntungan sepanjang kehidupan di dunia ini. 

Allah juga telah memperingatkan bahwa siapa yang mengingkari agama, menolak ajakan dan peringatan Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapatkan balasan di akhirat kelak.

Dalam Surat Thoha ayat 124-126 Alah dengan tegas menyebutkan, ‎“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". “Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". 

Tgk Tarmizi Dahmi menjelaskan, orang-orang yang berpaling dari peringatan-Nya (yakni agama yang diturunkan Allah ia akan mendapatkan dua sanksi. Pertama di dunia berupa kehidupan yang sempit. Kehidupannya menjadi sulit meski hartanya banyak. Hatinya kerdil, hampa, tidak ada ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan yang hakiki.

"Kita telah menyaksikan bagaimana itu semua terjadi pada kondisi umat secara umum. Keberkahan betapa sulit diraih. Rezeki dalam bentuk benda bisa banyak melimpah tapi tidak ada keberkahan di dalamnya. Inilah yang membuat jiwa (hati) tidak bahagia dan damai secara hakiki. Sebab ini adalah konsekuensi yang terjadi pada siapapun baik individu maupun kolektif yang berani berpaling dari agama Allah," sebutnya.

‎Sanksi kedua adalah yang akan diterima di alam akhirat yang belum pernah kita lewati. 

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya dan dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya,  ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”‎.

Allah akan himpun orang-orang yang berpaling dari agama Allah dengan keadaan buta. Buta dari pertolongan (syafa’at) Allah, sebab saat ia melihat amal-amalnya yang akan dipertanggungjawabkan begitu banyak kekurangan dan kekeliruannya, begitu banyak dosa-dosa yang telah dilakukan dan tidak ada yang menolongnya.

Ia terlunta-lunta, buta, sulit bergerak dan bingung untuk melangkah. Inilah konsekuensi kedua yang akan diterima di mahsyar nanti ketika alam jagad raya hancur, kemudian semua manusia dibangkitkan dalam kubur dan dihimpunkan di padang mahsyar. Di situlah manusia akan mendapatkan balasan yang setimpal dan sesungguhnya. Sekecil apapun amal baik atau buruk akan diperlihatkan.

Ketika ia buta tidak ada tempat untuk berlindung dan bernaung. Inilah kondisi yang amat memprihatinkan sebab kehidupan yang dihadapinya abadi. 
‎‎

"Bayangkan hari itu adalah hari pembalasan, sedang ia dalam keadaan buta karena ketika di dunia ia tidak peduli (respon) dengan agama. Pantas pada hari itu ia dibiarkan (dilupakan) oleh Allah. Betapa menyakitkan yang ia rasakan pada saat itu sementara orang-orang lain sedang merasakan kebahagiaan," katnya.

Inilah konsekuensi yang dipertegas Allah bahwa hidup ini bukanlah milik kita. Hidup ini adalah anugerah Allah. Apabila hidup ini milik kita maka akan dipertahankan sampai apanpun. Tapi karena kehidupan ini adalah semata-mata anugerah Allah maka kita mesti tunduk pada aturan Allah. Sebab aturan Allah bertujuan untuk membahagiakan kita sendiri sebagai ciptaan-Nya.‎

Diberdayakan oleh Blogger.