Rawat Hati Agar Tidak Kotor dan Gelap



kwpsi.org - Masyarakat muslim Aceh diajak untuk senantiasa merawat hati agar tidak kotor dan gelap. Baik atau buruknya hati sangat menentukan kualitas kehidupan seorang muslim.

Bahkan, dalam hadits sendiri menjelaskan bahwa apabila segumpal darah itu baik maka baiklah manusia, dan apabila ia buruk maka buruklah manusia ini. Segumpal darah ini ialah hati.

Demikian disampaikan Tgk Sirajuddin Saman, MA Pimpinan Dayah Khamsatu Anwar Gampong Teunong, Darul Imarah, Aceh Besar saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (10/2) malam.

“Jadi, hati bisa mengarahkan manusia ke surga atau neraka. Itu sebabnya sehingga kita perlu selalu menjaga hati dan merawatnya agar tidak gelap dengan kekotoran. Sebab, kalau hati sudah gelap maka hati akan mengarahkan kita ke neraka, “ ujar Tgk Sirajuddin‎ yang juga Wakil Ketua Pengurus Wilayah Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia (Bakomubin) Aceh.


Dalam pengajian yang dimoderatori Heru Dwi S (Kepala Biro LKBN Antara Aceh), Tgk Sirajuddin juga menyampaikan kriteria hati yang gelap.

“Seseorang yang ketika berada di samping jenazah, atau di suatu rumah yang sedang musibah, tapi masih bisa senyum gembira. Atau misalnya saat penyakitnya sudah akut, tapi masih membayangkan umurnya panjang dimana pada saat yang sama dia belum ingat akhirat. Ini adalah pertanda hati yang sudah gelap, “ jelasnya.

Menurut Tgk Sirajuddin yang mengutip Ibnu Mas’ud, ada empat hal yang apabila terdapat pada diri seseorang, maka hatinya akan gelap.

Pertama, orang yang makan atau mencari rezeki tanpa mempertimbangkan halal dan haram. Seseorang yang mengumpulkan harta dalam bentuk apapun, dia tidak mau tahu dari mana asal hartanya. Kalau proses pengumpulan harta yang haram ini dilakukan maka saat itu juga hatinya akan gelap.

"Sebagai muslim kita harus senantiasa terus membedakan antara harta halal dan haram, serta menjauhkan diri dari harta yang haram tersebut karena efeknya yang sangat besar bagi hati kita, yaitu membuat hati gelap, sementara jika hati sudah gelap maka ia akan menggiring manusia menuju berbagai keburukan lainnya," ungkapnya.

Tgk Sirajuddin juga menyinggung perilaku buruk PNS yang jarang di kantor yang mana ini juga termasuk mengumpulkan harta dengan curang yang bisa membuat hati mati.

Alumni UIN Ar-Raniry ini menyingung sebagian orang yang berjam-jam di Cafe, namun tidak terasa. Namun saat giliran di masjid, baru 20 menit sudah tidak nyaman. Ini juga tanda hatinya sudah gelap atau mati. Hati itu ibarat ikan dengan air. Kalau ikan tidak senang lagi dengan air, maka dia akan mati.

Penyebab gelapnya hati yang kedua, kata Sirajuddin, karena berteman atau bersahabat dengan orang zalim. Orang zalim itu adalah mereka yang dengan berani melawan Allah Swt dengan sengaja.

“Misalnya di rumah kita punya pasangan yang jauh dari nilai-nilai agama, bergaul jauh dengan nilai-nilai Islam, tidak salat atau sebagainya, maka ini kita telah berteman dengan orang-orang yang zhalim, “ kata Tgk Sirajuddin.

Penyebab ketiga hati bisa gelap karena tinggi angan-angan. Cita-cita untuk dunia terlalu luar biasa, tapi sedikit untuk akhirat. Rumah sudah besar tapi masih pikir yang lebih besar lagi. Tidak terbayang akhirat itu penting. Bahwa untuk alam kubur perlu persiapan. Ini juga bisa membuat hati seseorang menjadi gelap.

Keempat, penyebab hati menjadi gelap yaitu karena melupakan dosa-dosa yang pernah dibuat. Merasa dirinya suci dan sibuk melihat kekurangan orang lain. Orang yang merasa dirinya suci hanya sibuk menyenter orang lain, namun senter itu tidak pernah digunakan untuk senter diri sendiri karena merasa dirinya tidak punya dosa kepada Allah.

Tgk Sirajuddin


“Perilaku sepertinya ini juga bisa menyebabkan hati seseorang jadi gelap, “ sebut Tgk Sirajuddin.‎

Karenanya, menantu Almarhum Abuya HM Nasir Waly Lc ini mengajak umat Islam senantiasa merawat hati agar tidak gelap, dengan menjauhi perkara-perkara buruk, menjauhi perkara dan harta yang haram, tidak berteman dengan orang-orang yang zalim kecuali untuk mendakwahinya, tidak panjang angan-angan, kecuali untuk menggapai kebahagiaan akhirat dan selalu mengingat dosa dan melakukan taubat atas dosa-dosa tersebut.‎‎
Diberdayakan oleh Blogger.