Semangat Beribadah Harus Cukup Ilmu

Kwpsi.org - Kondisi masyarakat Aceh, khususnya di Kota Banda Aceh saat ini yang semakin hari terlihat semakin antusias dan peduli dengan agama dan giat beribadah tentunya sesuatu yang sangat baik.

Semangat beribadah masyarakat Banda Aceh saat ini khususnya, begitu luar biasa dan itu terbukti dari jamaah-jamaah masjid semakin hari terus bertambah. Bahkan ada jamaah keliling shalat subuh dari masjid ke masjid tiap sabtu dan minggu yang digalang oleh sejumlah komunitas. 

Begitu juga dengan pengajian di masjid-masjiid. Bisa dikatakan hampir tidak ada masjid untuk kota Banda Aceh yang tidak diadakan pengajian paling tidak seminggu sekali. Bahkan sampai pada tingkatan ada pengajian yang menggunakan kitab-kitab besar. Sebelumnya, kita tidak mendengar kajian secara umum menggunakan kitab perbandingan mazhab. Tapi sekarang sudah ada.

Tgk. H. Mursalin Basyah Lc, MA, ‎Pengurus Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh dan Pengajar di Pesantren Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB), Aceh Besar mengingatkan, semangat saja yang tinggi dalam beribadah, tanpa ditopang ilmu yang cukup dan bersanad kuat, juga bisa berakibat tidak baik. 

"Kenapa harus tahu ilmunya? Karena kalau kita mengerjakan sesuatu ibadah tapi tak tahu ilmunya, maka ibadah kita tidak ada nilainya dan tidak diterima oleh Allah SWT," ujar Tgk Mursalin Basyah saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (19/8/2015)‎ malam.

Pada pengajian dengan tema, "Keutamaan ilmu dan sanad" itu, Tgk Mursalin menjelaskan, ilmu itu tidak diambil dan didapatkan, kecuali dari mulut-mulut ulama. Kalau didapatkan dari mulut-mulut ulama itu baru dikatakan ilmu. Ilmu itu didapatkan jika ada guru (ulama), ada murid dan ada kitab.

"Maka disini kajian sanad ini penting untuk memperkuat semangat ibadah dan menjaga ibadah agar lebih bagus, lurus dan benar adanya. Maka untuk mendukung kondisi antusias masyarakat pada ilmu agama, maka melalui kajian sanad ini juga menjadi penting," jelasnya.

Sanad ilmu adalah rantai penyampai ilmu. Sanad terdiri atas seluruh penyampai, mulai dari orang yang mencatat ilmu dalam bukunya atau kitab hadits (mukharrij) hingga Rasulullah SAW. Sanad memberikan gambaran keaslian suatu riwayat dari ulama mutaqaddimin ke muta'akhirin.

Ilmu akan lenyap jika tradisi sanad ini tidak dipelihara. Di antara sebabnya, akan muncul golongan yang tidak mempunyai latar belakang keilmuan dalam bidang agama yang memadai berdiri di hadapan masyarakat umum lalu berbicara dalam urusan agama tanpa kelayakan. Mereka berargumen, karena semua orang beragama, mereka katakan semua agama sama, semua orang berhak berbicara dalam urusan agama. Dasar liberal seperti ini jelas tertolak dalam ukuran keilmuan Islam, yang menilai latar belakang keilmuan seseorang melalui tradisi sanad ini.

"Perlu Sanad itu bagian dari ilmu agama. Tanpa Sanad, berilmu tanpa guru yang bersambung sampai ke Rasulullah, maka dikhawatirkan semua orang bisa bicara tentang agama tanpa dasar. Hanya dengan baca-baca kitab bisa dapat ilmu tanpa guru, akan sesat. Sanad itu secara silsilah rentetan pembawa ilmu sampai Rasullah.‎ Itulah perbedaan ilmu dalam Islam dengan di luar‎ Islam," sebut Tgk Mursalin.

Dalam Islam, selain ilmu agama, itu tidak dikatakan sebagai ilmu. Tapi merupakan suatu Tsaqafah atau wawasan/keahlian di bidang tertentu, seperti ahli kedokteran, teknologi dan pengetahuan lainnya.

Ukuran kelayakan keilmuan yang sebenarnya dalam pengajaran ilmu-ilmu agama yang murni bukanlah pada ukuran akademis modern, yang merupakan acuan dan ukuran tradisi Barat, tetapi ukuran sebenarnya pada sandaran keilmuan seseorang yang mengajar ilmu agama, baik sanad ilmu, ijazah tadris, maupun lainnya yang menjadi asal rujukan.

Banyak sekali berita dan perkataan yang datang dari ulama mengenai pentingnya sanad dan anjuran menjaganya. Bahkan mereka menjadikannya sebagai ibadah dan bagian dari Dien. Abdullah bin Al-Mubarak berkata, “Isnad merupakan bagian dari agama ini. Andai kata bukan karena isnad, pastilah orang akan berkata semau-maunya. Bila dikatakan kepadanya ‘Siapa yang menceritakan kepadamu?’, ia diam (yakni diam kebingungan), tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Sebab ia tidak memiliki sanad yang dengannya ia dapat mengenali keshahihan atau kelemahan suatu hadits.”

Karena, tanpa berguru dengan guru, seseorang tidak layak mengaku sebagai ahli ilmu atau ulama, walaupun sudah membaca banyak kitab. Sebab para ulama salaf sendiri mencela orang-orang yang berguru dengan lembaran-lembaran semata-mata untuk berbicara tentang agama di hadapan manusia.

Imam Syafi’i mengatakan, “Tiada ilmu tanpa sanad”. Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Busthamiy mengatakan, “Barang siapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi, niscaya gurunya adalah setan”.

Hendaklah seorang penuntut ilmu memilih seorang guru yang ia dapat membaca kepadanya, yang mana guru tersebut perlu dinilai berdasarkan ia pernah membaca ilmu tersebut dari guru-gurunya dengan syarat yang mu’tabar di sisi para ulama. Begitu juga, para gurunya perlu membaca ilmu tersebut dari guru-guru mereka. Begitulah seterusnya kepada sumber cahaya ilmu dan petunjuk kemanusiaan, yaitu Rasulullah SAW.

“Inilah cara sebenarnya dalam menuntut ilmu. Karena, ilmu itu diperoleh dengan belajar dan itu tidak diambil melainkan dengan bertalaqqi dari mulut para ulama dengan menghadiri majelis-majelis ilmu, bersahabat dengan para ulama, dan sebagainya”‎.

Di Aceh sendiri, ungkap Tgk. Mursalin Basyah, banyak ulama-ulama terdahulu yang ilmu bersanad sambung menyambung dari ulama yang satu ke ulama lainnya sampai ke Rasulullah‎. Seperti halnya Syekh Mudawali Al-Khalidy.

Adapun budaya mendalami ilmu agama dengan bergurukan kepada buku semata-mata, tanpa bertalaqqi dengan para ulama mu’tabar untuk mengambil pemahaman ilmu-ilmu agama, atau sekadar merujuk beberapa individu yang berbicara tentang agama tanpa latar belakang sanad keilmuan yang jelas, akan terlepas dari tradisi keilmuan Islam yang asli.

Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja tidak akan menemui kesalahannya, karena buku tidak bisa menegur. Sedangkan guru bisa menegur jika ia salah. Atau jika ia tak paham, ia bisa bertanya. Tapi kalau berguru hanya kepada buku, jika ia tak paham, ia hanya terikat dengan pemahamannya dirinya.

Walau demikian, tentu kita boleh membaca buku. Namun kita harus mempunyai satu guru, yang kita bisa bertanya kepadanya jika kita mendapatkan masalah.

Diberdayakan oleh Blogger.