Ilmu Mampu Perkecil Perpecahan Umat



PERKEMBANGAN ilmu akan memperkecil perpecahan dan perbedaan pendapat di kalangan umat Islam, sebagaimana yang terjadi saat ini. Ketika ilmu dan pemahaman semakin berkembang dalam setiap pribadi muslimin, maka semakin kuat dan terbuka jalan bagi terwujudnya persatuan umat.

Demikian dikatakan Syeikh Abu Muaz Muhammed Abdul Hay al Uwenah, ulama Mesir yang juga staf pengajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Rabu (8/1) malam saat mengisi pengajian dan diskusi rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh, Kupi Luwak.  

Syeikh Abu Muaz dalam paparannya juga menyesalkan dan prihatin dengan masih maraknya perselisihan di antara sesama umat Islam yang suka menuduh dan saling mengkafirkan satu sama lain. “Saya sangat mengecam tindakan muslim yang terlalu mudah mengafirkan orang lain,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini sedikit saja perbedaan pendapat di antara umat Islam, maka akang langsung menuduh yang berbeda itu sebagai wahabi, kafir, dan lainnya.   

Syeikh Abu Muaz yang saat ini sedang mengajar program bahasa Arab bagi santri di lembaga bahasa Dayah Darul Ikhsan Krueng Kalee, Siem, Darussalam, Aceh Besar, menyebutkan salah satu jalan bagi terwujudnya persatuan umat Islam adalah berpegang teguh kepada sesuatu yang telah kita ketahui, yakni Alquran dan Sunnah Rasulallah SAW.

Mengilustrasikan bagaimana para shalafusshalih sangat toleran dan menghargai setiap pendapat yang berkembang dalam hal fiqih, Syeikh Abu Muaz mengisahkan Imam Syafii ketika berdebat. Menurutnya, Imam Syafii tidak pernah berharap menang dalam perdebatan. Tapi ia berharap ada sesuatu kebenaran yang dapat diambil dari lawan debatnya. “Imam Syafii tidak pernah membenarkan pendapatnya dalam setiap debat,” ujarnya.

Syeikh Muaz yang isi taushiyahnya juga diterjemahkan oleh Ketua Lembaga Bahasa Darul Ikhsan, Ustaz H Muakhir Zakaria MA, juga memaparkan bagaimana keadaan dunia Islam saat ini. Menurut Syeikh Muaz darah kaum muslimin begitu mudah tumpah. Ia juga menyesalkan apa terjadi di Mesir saat ini, di mana ada sebagian ulama Mesir yang mengeluarkan fatwa halal darah bagi para demonstrans yang melakukan aksi damai menentang pemerintahan berkuasa saat ini. “Padahal para demonstrans itu adalah orang-orang yang melakukan shalat Tahajjud dan selalu shalat berjamaah. Hadits Rasulullah, yang menghalalkan darah kaum muslimin akan dilempar ke dalam neraka, meski dia ulama sekalipun,” ujarnya.

Pada pengajian dan diskusi bertema “Memahami Makna Persatuan Dalam Islam”, Syeikh Abu Muaz juga mengupas awal mula perpecahan dan perselisihan yang terjadi di dalam tubuh umat Islam. Ia mengatakan, bangsa Arab bersatu karena kehadiran Islam yang dibawa oleh Rasulallah SAW. Kemudian perpecahan terjadi sepeninggal Nabi Muhammad SAW. “Salah satu musibah yang sangat besar dan cobaan bagi umat Islam adalah wafatnya Rasulullah SAW,” katanya.

Ia menjelaskan, fitnah di kalangan umat Islam mulai marak pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Di mana saat itu ada gerakan di luar kekuatan muslimin yang memperkeruh situasi, terutama tentang beragam pendapat saat para sahabat akan menghukum pembunuh Khalifah Utsman bin Affan.

Beberapa ahli sejarah, menurut Syeikh Muaz, mencoba memanipulasi data dan fakta dalam perselisihan antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah. “Persoalan itu, bukan karena perebutan khalifah, tapi lebih pada urusan untuk memperjelas siapa dan bagaimana Usman bin Affan wafat,” ujarnya.

Diskusi yang dipandu oleh Tgk Mulyadi Nurdin Lc itu, terlihat cukup hidup terutama banyak pertanyaan terkait firqah (golongan) dalam Islam, seperti saat ini. Beberapa peserta, kalangan mahasiswa, para ustaz, dosen, aktivis, dan para pebisnis terlihat langsung bertanya dengan bahasa Arab. (ari/nal)



Diberdayakan oleh Blogger.