Sabar Derajat Tertinggi di Sisi Allah

Sabar merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Sabar memiliki ikatan yang tidak mungkin dipisahkan dari keimanan. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran.

Allah SWT telah menggambarkan orang-orang yang sabar dengan berbagai gambaran dan sifat positif. Allah juga menambahkan ketinggian derajat dan kebaikan kepada orang yang bersabar.

Demikian antara lain disampaikan Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh, Drs. Tgk. Syamsul Bahri M. Ag‎ saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (6/8) malam.

"Sabar itu bukanlah pasif dan pasrah pada keadaan, tapi justru berusaha untuk selalu taat kepada Allah dan meninggalkan segala larangan Allah dengan penuh kesabaran, meskipun beban yang begitu berat yang harus dijalani," ujar Tgk. Syamsul Bahri.

Menurutnya, sabar dan shalat merupakan perintah Allah yang paling utama yang menandakan kemuliaan bagi seorang hamba-Nya. Jika kita shalat bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah sebagai Sang Pencipta, maka dengan adanya sifat sabar Allah akan mendekati hamba-Nya dengan derajat tertinggi.

Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry ini mengungkapkan tiga macam sabar‎ di jalan Allah yang akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.

Pertama, sabar dalam melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT meskipun itu sangat berat dan penuh rintangan serta godaan. Salah satu contohnya adalah dalam beribadah shalat dapat di-implementasikan dengan bentuk melawan dan memaksa diri untuk bangkit dari tempat tidur, kemudian berwudhu lalu berjalan menuju masjid dan melaksanakan shalat secara berjamaah, dengan menghadirkan hati untuk tidak bersikap ‘ujub, riya atau pun cari popularitas lainnya.

Karena keikhlasan dalam beribadah merupakan syarat mutlak untuk diterimanya semua amalan yang kita lakukan, dan kelak pahalanya seseorang yang mampu dan selalu bersabar di dalam menjaga ketaatannya adalah setara dengan 600 derajat di hadapan Allah SWT.

Kedua, sabar dalam usaha untuk menjauhi perbuatan maksiat dan segala larangan Allah.
Sabar  sesungguhnya mempunyai dimensi yang lebih pada pengalahan hawa nafsu yang terdapat dalam jiwa insan. Dalam berjihad, sabar dapat dibuktikan dengan melawan hawa nafsu yang menginginkan agar dirinya duduk dengan santai dan tenang di rumah.

Selain itu, berusaha menjauhi maksiat berarti selalu berupaya menjaga dalam setiap aktivitas seperti harus menjaga lidah kita dari perbuatan ghibah, ataupun mencela orang lain. Derajat kemuliaan seseorang yang mampu berbuat sabar, kelak Allah lipatkan sebanyak  900 derajat, dan ini derajat tertinggi di antara kesabaran dalam menjalankan ketaatan ataupun sabar ketika sedang diuji oleh Allah SWT.

Ketiga, sabar terhadap segala ketentuan dan takdir Allah kepada hamba-Nya, seperti di saat sedang dalam menghadapi musibah. Sabar juga memiliki dimensi untuk merubah sebuah kondisi, baik yang bersifat pribadi maupun sosial, menuju perbaikan yang lebih baik.

Seseorang dapat dikatakan tidak sabar, jika ia menerima kondisi buruk, pasrah dan menyerah begitu saja. Seseorang yang selalu bersabar di saat tengah ditimpa musibah, akan mendapatkan sebanyak 300 derajat kemulyaan dari Allah SWT.

Sabar merupakan perintah Allah SWT sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 153:‎ "Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar"‎.

Sabar juga bisa diartikan bisa menahan diri saat kita marah dan punya melakukan pembalasan setimpal, tapi kita lebih memilih bersabar karena ingin lebih mulia di sisi Allah.

"Ada kalanya kita lebih pantas marah terhadap kesalahan yang dibuat orang lain. Misalnya, saat di di jalan raya. Kita melewati persimpangan dengan lampu hijau, tiba-tiba dari arah lain orang menorobos lampu merah‎ dan bisa membahayakan kita dan pengendara lainnya. Saat itu kita sangat wajar marah, tapi kita justru berhenti dan masih bisa tersenyum sambil membiarkan orang itu terus lewat meskipun telah melanggar aturan. Di saat itulah kita lebih mulia di sisi Allah meskipun berat," ungkapnya.

Tgk. Syamsul Bahri juga mengakui, sabar itu bermanfaat untuk orang banyak, bukan hanya diri sendiri saja.

"Meskipun kesabaran seseorang itu ada batasnya, tapi Allah memerintahkan kita untuk bisa bersabar seperti sabarnya Rasul Ulul Azmi. Jadikanlah sabar dan shalat itu sebagai penolong dari Allah untuk hambanya," jelas Tgk. Syamsul.

Disebutkannya, sabar itu tidak boleh pasif tapi harus terus kreatif dan aktif dengan mengajak orang lain agar juga sabar dan taat di jalan Allah.

"Sabar itu melakukan sesuatu. Untuk taat secara menyeluruh, harus banyak yang beribadah. Sedangkan untuk kurangi kejahatan, perlu banyak orang yang tinggalkan maksiat. Itu tugas kita sebagai bentuk kesabaran di jalan Allah," katanya.

Sabar tidak identik dengan kepasrahan dan menyerah pada kondisi yang ada, atau identik dengan keterzaliman. Justru sabar adalah sebuah sikap aktif, untuk merubah kondisi yang ada, sehingga dapat menjadi lebih baik dan baik lagi. Karenanya, marilah secara bersama kita berusaha untuk menggapai sikap ini. Insya Allah, Allah akan memberikan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang berusaha di jalan-Nya. (Kwpsi.org)

Diberdayakan oleh Blogger.