Mukmin Merdeka Tidak Diperbudak Nafsu


KWPSI - Setiap manusia dalam hidupnya di dunia ini selalu menginginkan adanya kemerdekaan dalam melakukan sesuatu.‎ Secara umum makna kata “merdeka” adalah bebas dari perhambaan. perbudakan atau penjajahan. 

Sementara kemerdekaan yang diinginkan oleh Islam bukan hanya terbatas pada kebebasan dari belenggu fisik semata, tapi lebih dari itu adalah kebebasan dari belenggu dan ketergantungan kepada selain Allah swt dalam berbagai bentuk dan modusnya.

Selain itu juga tidak diperbudak oleh hawa nafsu dunia dan memperturutkan amarah yang menjadi sebab-sebab munculnya kemaksiatan perbuatan yang mengakibatkan seorang muslim tidak merdeka.

Demikian disampaikan Ustaz H. Masrul Aidi Lc, Pimpinan Dayah Babul Maghfirah Cot Keu'eung, Kuta Baro, Aceh Besar, saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Banda Aceh, Rabu (12/8) malam.

“Seorang mukmin barulah dapat disebutkan sebagai orang yang merdeka apabila dirinya tidak dijajah atau dikendalikan oleh nafsu syahwatnya dalam mengikuti langkah-langkah (perbuatan) syaitan yang dinyatakan Allah sebagai musuh yang nyata," ujar Masrul Aidi.

Dalam pengajian dengan tema, "Mukmin Merdeka" tersebut, Ustaz Masrul mengungkapkan, seorang muslim harus berlepas diri dari penghambaan kepada selain Allah Swt. Tidak cukup hanya sekedar ucapan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Di sinilah sebenarnya, inti kemerdekaan seorang muslim. 

“Sesungguhnya hati yang memahami lâ ilâha illallâh, lalu membenarkannya dengan penuh keikhlasan, maka akan tertanam kuat sikap penghambaan hanya kepada Allah dengan penuh penghormatan, rasa takut, cinta, pengharapan, pengagungan dan tawakkal, yang semua itu memenuhi ruang hatinya dan disingkirkannya penghambaan kepada selain Allah dari para makhluk-Nya. Jika semua itu terwujud maka tidak akan ada lagi rasa cinta, keinginan dan permintaan selain apa yang dikehendaki Allah, serta apa yang dicintai-Nya dan dituntut-Nya," katanya.

Demikian juga akan tersingkir dari hatinya semua keinginan nafsu syahwat dan bisikan-bisikan syaitan, maka siapa yang mencintai sesuatu atau mentaatinya atau mecintai dan membenci karena sesuatu itu maka dia adalah tuhannya, dan siapa yang mencintai dan membenci semata-mata karena Allah, ta’at dan memusuhi karena Allah, maka Allah baginya adalah Tuhan yang sebenarnya. 

Siapa yang mencintai karena hawa nafsunya dan membenci juga karenanya, atau ta’at dan memusuhi karena hawa nafsunya, maka hawa nafsu baginya adalah tuhannya, sebagaimana firman Allah Swt “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”, (QS. Al Furqaan : 43).

Tidak ada yang lebih membunuh kemerdekaan daripada menjadikan sebagian manusia sebagai tuhan bagi sebagian yang lain, dalam kondisi seperti ini manusia tidak bisa mengembalikan kemerdekaannya dan kehormatannya, kecuali jika mereka menghancurkan tuhan-tuhan palsu itu, terutama dalam diri orang-orang yang dianggap tuhan, padahal ia adalah manusia seperti mereka, tidak bisa memberikan manfaat atau bahaya kepada dirinya, tidak juga menghidupkan, mematikan dan membangkitkan.

Rasulullah SAW bersabda, “Celakalah budak dinar, budak dirham, dan budak khamishah (suatu jenis pakaian). Apabila diberi dia ridha, dan bila tidak diberi dia murka.”. Kata “budak” pada hadis ini telah dipakai oleh Rasulullah SAW untuk menyebut orang-orang yang telah diperbudak oleh dunia.

“Budak harta dan jabatan adalah orang yang mencarinya dengan semangat tinggi. Bila memperolehnya, dia menjaganya seolah-olah dia sebagai pelayan atau budak,”.

Ulama muda lulusan Al-Azhar Kairo, Mesir ini menambahkan, seorang pejabat atau pemimpin yang merdeka adalah pejabat/pemimpin yang mampu membebaskan dirinya dari ambisi-ambisi pribadi (dan keluarganya), dan hanya memikirkan kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya. Dia memandang jabatan itu sebagai amanat yang harus dipertangungjawabkan. Seorang cendekiawan yang merdeka adalah yang selalu menyuarakan kebenaran dan keberpihakan kepada masyarakat banyak. Ia tidak akan melakukan upaya pembodohan kepada masyarakat, apalagi dengan menggunakan dalil-dalil dan alasan-alasan yang sengaja didistorsikan atau disalahtafsirkan.

‎Ustaz Masrul Aidi juga mengungkapkan, pada abad 20 telah lahir suatu produk yang memperbudak manusia yaitu mengejar karier yang lebih tinggi baik laki-laki dan perempuan. Apa saja dilakukan agar kariernya terus meningkat, dan melupakan hal-hal terpenting dalam hidupnya termasuk keluarganya.

"Ini akan berakhir pada perbudakan manusia demi mengejar karier. Tidak ada waktu lagi untuk keluarga‎. Mereka itu tidak merdeka lagi dalam bekerja. Padahal, pada abad-abad sebelumnya, manusia menekuni suatu pekerjaan itu sesuai hobi, bukan terpaksa‎," ungkapnya.

Ia mengingatkan, orang yang lebih mengejar karier biasanya lupa menikmati hasil yang diperoleh dari kerja kerasnya karena terus sibuk setiap saat.

"Hasilnya dia akan kaya dan banyak harta, tapi sedikit rezeki yang bisa dinikmati. Biasanya orang miskin banyak rezeki dan orang kaya banyak harta. Rezeki yang yang bisa dipakai dan dinikmati, sedangkan harta rezeki yang tidak terpakai," sebutnya.

Diberdayakan oleh Blogger.