Ingin Shalat Berkualitas, Lakukan Enam Kiat Ini

Tgk Syukri Daud Pango
KWPSI - Shalat merupakan kunci utama ibadah. Pertemuan antara dzat pemilik jiwa yang mendatangkan ketenangan melebihi teraphy dan meditasi manapun. Jika kekhusyu’annya tidak berhasil diraih, maka shalat hanya menjadi rutinitas ritual yang menjemukan.
Khusyuk mengerjakan shalat adalah sebuah kewajiban yang harus ada dalam shalat. Khusyuk adalah ruh shalat itu sendiri, dengan ruh semua jadi berharga. Tanpa ruh, sesuatu itu jadi mati dan biasanya sesuatu yang mati tidak ada harganya dan tak bernilai.
Tgk Syukri Daud Pango mengatakan, shalat yang berkualitas adalah shalat yang sempurna yang memiliki keutamaan dan keagungan. Secara fiqih, shalat seseorang sah apabila telah memenuhi syarat dan rukunnya, tetapi shalat yang sah secara fiqih belum tentu disebut shalat khusyuk.
“Shalat memiliki nilai jika diiringi dengan kekhusyukan, yang dengannya pula mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Shalat yang berkualitas bukanlah shalat yang asal-asalan atau sekadar memenuhi syarat dan rukunnya saja,” ujar Pimpinan Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyah Pango Raya, Kecamatan Ulee Kareng itu.
Hal itu disampaikannya saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) yang berlangsung di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (8/4) malam. Diskusi rutin yang kali ini mengangkat tema ‘Menjadikan Shalat Lebih Berkualitas’ dihadiri Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh, Ali Alfata, para mahasiswa, akademisi, santri, kalangan wartawan anggota KWPSI, ormas Islam serta masyarakat umum.
Terminologi khusyuk yang dimaksudkan Tgk Syukri ialah tenangnya anggota tubuh dan hadirnya hati, bahwa ia sedang ‘berbicara’ dengan sang pencipta, sehingga lingkungan fisik tidak lagi menjadi stimulus yang mengganggunya. “Karena hati hanya tertuju kepada Allah, tidak kepada yang lain, tidak lalai dan tak ada lagi yang terdengar dan menarik perhatian kita dalam shalat selain kepada sang pencipta. inilah yang kita cari,” terangnya.
“Bahkan ada hadits Nabi Saw yang menyatakan bahwa “dua rakaat shalat orang yang khusyuk lebih bernilai ketimbang 1000 rakaat shalat orang yang hatinya lalai,” imbuh Tgk Syukri.
Ia‎ menyebutkan, mi’rajnya kekhusyukan shalat pasti menuju zat yang maha segalanya dan membawa dampak pada ketenteraman batin. 
Mengutip perkataan Imam Ghazali dalam Ihya `Ulumuddin, Tgk Syukri menjelaskan makna batin yang dapat menyempurnakan shalat ada 6 perkara, yaitu; (1) Hudhurul qalbi, kehadiran hati, (2) Tafahum, yaitu kefahaman apa yang dibaca, (3) Ta’zim, mengagungkan Allah, (4) Haibah, adanya rasa takut pada zat yang disembah, (5) Raja’, berharap mendapat balasan dan (6) Hayya’ atau malu.
“Berkumpulnya enam perkara inilah yang memberi nilai shalat kita (khusuk), sehingga bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar,”pungkasnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, kehadiran hati adalah mengosongkan dan menjaga dialog hati, dari segala sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan amalan shalat. Faktor penyebab kehadiran hati adalah himmah atau perhatian utama, cita-cita dan keinginan kita. Bila hati menuju perhatian- perhatian nafsu duniawi, lanjutnya, inilah yang disebut “kelalaian”, karena bagaimana mungkin kita sedang bermunajat kepada Allah sedangkan hati kita tidak “menghadap-Nya”.
“Tabiat hati memang seperti itu, mengikuti himmah. Misalnya orang yang lagi suka batu giok, walaupun dimulutnya membaca Iyyakana'budu wa iyya kanasta'in, tapi dalam hatinya batu giok. Ini bukan kosong tapi himmah nya tertuju ke batu giok dan bukan fana tapi meu awo namanya,” tegas Tgk Syukri.
Kelanjutan dari hudhurul qalbi adalah at-tafahum yaitu pemahaman akan makna bacaan itu sendiri. Pemahaman ini berbeda-beda antara satu dengan lainnya, sebagaimana perbedaan pengetahuan dan tingkat kehadiran hati masing-masing. Kemudian Ta’dhim, yakni kesadaran diri akan keagungan Allah swt sebagai dzat pengatur kehidupan. Kepada-Nyalah tergantung semua kehidupan makhluk di alam ini. Ta’dhim kepada Allah swt ini mampu meningkatkan kualitas khusyu’ seseorang jika disertai dengan kehadiran hati dan kepahaman. 
“Lalu kenapa saat berdiri shalat, tidak timbul kesadaran diri? Karena kita belum kenal Allah, ma’rifat kita terbatas. Ta’dhim akan timbul setelah kita sadar dan menghayati keagungan dan kebesaran-Nya dan menyadari akan kekurangan serta kehinaan kita sebagai makhluknya. Dari dua kenal inilah timbul penghormatan,” terang da'i kondang di Banda Aceh ini.‎
Adapun Haibah adalah perasaan takut yang lahir dari perasaan ta’dhim. Berbeda dengan takut yang ditimbulkan karena adanya unsur kemudharatan, misalkan takut binatang buas. Sedangkan haibah adalah perasaan takut yang lahir karena keagunganNya.
Artinya, kehadiran hati totalitas dalam memahami makna bacaan, zikir dan do’anya sehingga terselip menyelinap perasaan takut disertai hormat kepada Allah. Misalnya ketika membaca Maaliki Yaumiddin, artinya raja di hari akhir (kiamat) pasti akan muncul rasa takut, sebab seorang raja akan bertindak sekehendaknya. Sedang kita akan dipertemukan dengan hari kiamat dan berjumpa dengan Allah. 
“Tapi kalau kita takut pada ular, misalnya, ini tak ada ta’dhimnya. Dan perlu diingat, Haibah itu muncul dari ta’dhim sedangkan ta’dhim itu muncul setelah kita mengenal Allah,”tambah Tgk Syukri Daud.
Sedangkan Raja’, sebut Tgk Syukri, secara bahasa adalah pengharapan, dapat diartikan sebagai harapan yang senantiasa hadir dalam hati akan adanya ridha Allah swt. Seorang hamba tentunya harus tahu diri sudah pantaskah dia mengharapkan ridha Allah swt, jika shalatnya tidak mampu mendatangkan rasa ta’dhim.
Bagaimana mungkin seorang mengharapkan sesuatu dari orang lain tanpa didahului pengabdian? Meski demikan kewajiban hamba adalah mengharap kepada-Nya, disertai dengan usaha mendekat dan mengenal-Nya melalui shalat yang khusyu’.
Dan yang terakhir adalah Haya’ atau perasaan malu kepada kemurahan-Nya. kenapa harus ada rasa malu? Karena kita memiliki kekurangan di dalam melakukan perintah-Nya, sementara rahmat dan anugerah yang diberikannya berlimpah ruah. Kita juga banyak meminta sementara keta’atan kepada Allah tidak seimbang.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman; “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al Baqarah 45).
“Bila ada problema hidup maka shalatlah, bila akan marah shalatlah. Shalat yang dilaksanakan dengan tuma'ninah, yang tidak dengan tergesa-gesa akan memupuk rasa kesabaran kita,” demikian pesan Tgk. Syukri Daud.
Kekusyukan shalat, tambahnya lagi, akan membawa perubahan terhadap prilaku sehari-hari, seperti fisik sehat, batin tenang, pikiran jernih, keluarga sejahtera, rezeki berkah dan bahkan ketenteraman negara juga akan diperoleh.
Ternyata menghadirkan kekhusyukan tidak mustahil bagi orang beriman yang ingin meraihnya. Ma’rifatullah!! dan kesungguhan hati harus terus di-istiqamahkan hingga tercipta ‘kemesraan’ seorang hamba dengan Sang Pencipta. (ridha yuadi)
Diberdayakan oleh Blogger.