KWPSI Diharapkan Jadi Model Nasional

Dewan Pembina Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), H Sjamsul Kahar mengukuhkan pengurus KWPSI periode 2015-2018 di Kantor PWI Aceh, Sabtu (14/3/2015). SERAMBI/BUDI FATRIA 

* Pengurus KWPSI Periode 2015-2018 Dikukuhkan

BANDA ACEH - Kehadiran Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Aceh, diharapkan bisa menjadi model nasional atau contoh bagi daerah lain di Indonesia, sebagai lembaga perkumpulan wartawan yang eksis mengawal pelaksanaan syariat Islam di Aceh.
“Kita di Aceh sudah biasa menciptakan sesuatu yang menjadi model nasional. Semoga ini (KWPSI) juga bisa diikuti oleh daerah lain,” kata Ketua Dewan Pembina KWPSI, H Sjamsul Kahar, usai mengukuhkan pengurus KWPSI Periode 2015-2018 di Aula Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh, Banda Aceh.
Sjamsul mengatakan, KWPSI bukanlah lembaga profesi wartawan seperti PWI, Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI). Tapi, lembaga ini dilahirkan oleh beberapa wartawan lintas media sejak dua tahun lalu, untuk mengembangkan kegiatan religius secara bersama-sama untuk meluruskan kontradiktif yang muncul dalam masyarakat tentang pelaksanaan syariat Islam.
“Saya menegaskan kelahiran KWPSI semata untuk mengisi ruang gelap dalam kontradiksi yang timbul dalam masyarakt kita. Saya yakin di Aceh tidak ada yang tidak Islam. Saya yakin di Aceh agama Islam berkembang dengan baik. Namun, dalam kenyataannya kita melihat ada sebagian yang tidak memahami syariat Islam. Bahkan ada yang menakuti syariat Islam itu sendiri,” katanya.

Pimpinan Umum Harian Serambi Indonesia ini menyatakan, syariat Islam merupakan aturan kehidupan bagi umat manusia. Baik dalam hubungan sesama manusia maupun hubungan antara manusia dengan Allah. “Itu muatan pokok dari syariat Islam, jadi tidak perlu merasa gundah dengan syariat Islam. Dan itu juga yang menjadi pedoman KWPSI,” tuturnya.

Selain itu, Sjamsul Kahar menegaskan kehadiran KWPSI juga harus bisa memberikan informasi yang menyejukkan bagi pembaca. Sebab, sebagian besar pengurus dari lembaga itu berasal dari wartawan. Selain itu, ia juga mengamanahkan kepada pengurus baru agar KWPSI tidak dicampur adukkan dengan politik, tapi harus fokus memberikan pencerahan.

Sementara Ketua KWPSI Periode 2015-2018, Arif Ramdan mengatakan amanah yang diterimanya sebagai ketua KWPSI sangat berat. Karena, lembaga ini membawa nama Islam. “Ketika kami tergelincir, maka Islam akan menjadi bulan-bulanan media,” kata Arif.
Selain itu, ia juga mengajak semua masyarakat mengawal syariat Islam secara bersama-sama dengan berbagai cara. Ia juga mengajak para undangan untuk menghadiri pengajian rutin yang dilaksanakan KWPSI setiap Rabu malam, di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh.

Sementara Ketua Panitia Pengukuhan Pengurus KWPSI, Zainal Arifin M Nur mengatakan, Arif Ramdan dipilih oleh presidium untuk menggantikan Azhari (wartawan LKBN Antara) yang terpilih pada Mubes lalu. Karena, beberapa hari setelah pemilihan, Azhari dipromosikan menjadi Kepala Biro LKBN Antara Provinsi Jambi.
Turut hadir pada acara itu, Dewan Pembina KWPSI H Harun Keuchiek Leumiek, Asisten I Setda Aceh Iskandar Gani, Wakil Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Tgk Abdurrahman Kaoy, Pembantu Rektor III UIN Ar Raniry, Syamsul Rijal, Purek Unida Bustamam Ali, Ketua PWI Aceh Tarmilin Usman, Ketua AJI Banda Aceh Adi Warsidi, Direktur Syariah Bank Aceh, Haizir Sulaiman, Ketua Fraksi Gerindra-PKS DPRA Abdurrahman Ahmad, Ketua Fraksi PAN DPRA, Asrizal H Asnawi, Humas Polda Aceh Gustav Leo, perwakilan Bank Syariah Mandiri, perwakilan Pangdam Iskandar Muda dan undangan lainnya.

Selain pengukuhan, KWPSI juga memperingati maulid Nabi Besar Muhammad SAW di tempat yang sama. Cemarah maulid disampaikan Ustaz Masrul Aidi, Pimpinan Dayah Babul Maghfirah, Cot Keueung, Kuta Baro, Aceh Besar.

Dalam ceramahnya, ustaz jebolan Universitas Al-Azhar, Mesir itu mengulas panjanglebar tentang kehidupan Nabi bersama keluarga dan para sahabatnya. Beberapa inti yang disampaikannya antara lain, jika kita mengaku cinta kepada Rasulullah, maka kita harus mengetahui silsilah keturunan Nabi Muhammad secara utuh. “Jangan hanya mengenal ayah dan kakek nabi saja, tapi siapa saja cucu-cucu nabi,” katanya.

Itu sebabnya, kata Masrul, hampir setiap mimbar ia menegaskan untuk menguasai silsilah keturunan nabi secara sempurna, terutama kepada para dai. “Jika undang penceramah untuk ceramah maulid, tanya dulu kepada penceramah. Apakah beliau tahu cucu nabi, jika tidak jangan undang dan harus belajar dulu,” katanya.

Dalam rangkaian peringatan maulid tersebut, KWPSI juga menyantuni 25 yatim dari kalangan wartawan, Panti Asuhan Ulee Kareng, dan tempat lainnya di Banda Aceh. Setiap anak yatim, mendapat bingkisan dan uang.(mz)

Diberdayakan oleh Blogger.