Konsep Pelayanan Kesehatan Islami Diterapkan di RSUZA


 
PAGI sejenak sebelum jam kerja reguler dimulai di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, seluruh koridor rumah akit baru yang dibangun dengan bantuan Pemerintah Jerman itu, akan dipenuhi dengan lantunan ayat suci Alquran.
 
Hanya ada langkah hilir mudik kala para staf dan karyawan memasuki ruang kerja masingmasing. Sementara di sal-sal perawatan, keluarga pasien tampak berbenah di sisi ranjang perawatan.
 
Tak ada lagi ketawa cekikikan dan salam selamat pagi, yang terdengar hanyalah suara merdu qari dan qariah melalui pengeras suara terkoneksi di seluruh rumah sakit. Kadang ada suara mengaji Muammar ZA, atau kadang murattal Quran ala Syech Ahmad Sudais.
 
Itulah aura dari konsep pelayanan islami yang kini telah diterapkan di RSUZA Banda Aceh, seperti yang diungkapkan Direktur RSUZA Banda Aceh, dr. Fachrul Jamal Sp.AN,KIC yang juga Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh, yang tampil sebagai pemateri dalam pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) Aceh di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (11/3) malam.
 
Dalam kesempatan itu juga turut menjadi pemateri, Dr Jabbar Sabil MA, dosen senior dari UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Tema pengajian yang dibahas seputar "Pengaruh Ibadah terhadap Kesehatan".
 
Turut hadir, Anggota Komisi III DPR-RI, M Nasir Djamil, Ketua Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wilayah Aceh, Rusly Albas, tokoh masyarakat, akademisi, mahasiswa, ormas Islam dan kalangan wartawan anggota KWPSI.
 
Menurut Jamal, konsep pelayanan islami itu terus diupayakan berlangsung di semua lini pelayanan. Termasuk dengan memberikan salam kepada pasien setiap dimulainya sebuah tindakan pelayanan. Selain itu juga dengan menghentikan sejenak pelayanan di poliklinik ketika waktu shalat lima waktu.
 
Sejenak azan berkumandang dari Masjid Ibnu Sina di Komplek RSUZA, seluruh aktifitas pelayanan di poliklinik serta unit supporting dihentikan. Seluruh staf berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan shalat, yakni zuhur dan ashar yang masuk dalam jam kerja rutin harian.
 
Ada hal baru yang dilakukan dalam konteks pelayanan islami tersebut, manajemen RSUZA setiap hari mendatangkan ustadz atau mubaligh untuk memberi pencerahan kepada para pasien di unit unit ruang rawatan.
 
Ustadz itu nantinya memasuki ruang demi ruang rawatan lalu mengajarkan praktik praktik ibadah kepada pasien, terutama menyangkut tayamum, cara shalat bagi pasien yang sakit, serta juga ceramah agama bagi pasien.
 
“Setiap hari kita undang satu orang, dari Masjid Al Makmur Lampriek serta Masjid Ibnu Sina RSUZA. Kita ingin pasien mengerti bagaimana pentingnya shalat, walau dalam kondisi sakit parah sekalipun. Karena ibadah itu juga bagian dari penyembuhan secara bathin dan memberi ketenangan kalbu untuk para pasien,” ujar dr Jamal.
 
RSUZA kini memang telah berubah. Lembaga pelayanan dan pemulihan kesehatan milik Pemerintah Aceh itu kini berbenah menuju sebuah era baru, yakni pelayanan secara islami. Sebuah konsep yang sejajar dengan penerapan Syariat Islam di Bumi Aceh.(nurdinsyam)‎

Diberdayakan oleh Blogger.