Pemikiran Liberal Bisa Merusak Syariat Islam

DR Jabbar Sabil
Banda Aceh - Pola pemikiran liberal yang saat ini terus dikembangkan oleh sejumlah kalangan untuk mempengaruhi umat Islam  ternyata bisa merusak nilai-nilai syariat Islam yang diperintahkan oleh Allah SWT.
Hal ini disebabkan pemikiran tersebut sangat berbahaya karena berusaha menggiring umat Islam secara pelan-pelan untuk tidak perlu lagi taat pada perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya
"Pola pikir liberal tersebut sangat berbahaya bagi umat Islam. Karena dengan akal dan logikanya, dia tak perlu melaksanakan perintah dan ibadah kepada Allah, jika sudah berbuat baik kepada sesama manusia," ujar Dosen Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry, Ustaz Dr. Jabbar Sabil, MA saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (31/12) malam.
Menurutnya, saat ini pemikiran liberal mulai merasuki umat Islam agar menjadi pola pikir yang mengarah kepada sekuler. Tidak sedikit yang telah terpengaruh, sehingga ada umat Islam yang tidak senang pada syariat Islam bahkan ada yang membencinya.
Ustaz Jabbar Sabil mengungkapkan, pola pikir liberal dengan pemikiran sesatnya, dalam menjalankan perintah Allah lebih mementingkan tujuan dari pada sarana untuk mencapai tujuan tersebut.
Misalnya, Allah memerintahkan umat Islam mendirikan shalat sebagai sarana menuju tujuan yaitu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Terhadap perintah Allah ini, orang yang liberal akan berpikir dengan akalnya, bahwa jika sudah bisa menghindari perbuatan keji dan mungkar dan berbuat baik kepada sesamanya, maka tidak perlu lagi melakukan shalat lima waktu
"Shalat adalah sarana, dengan tujuan cegah maksiat. Apa kalau tidak maksiat dan tidak berbuat mungkar lalu tidak perlu lagi shalat karena tujuan sudah tercapai. Ini adalah pemikiran yang sesat," tegasnya.
Begitu juga dengan perintah memakai jilbab dan menutup aurat bagi perempuan sebagai sarana menghindari fitnah, tuduhan atau pandangan negatif dan mencegah timbulnya hawa nafsu lawan jenis maupun sesama jenis.
"Pola pikir liberal akan mengatakan tidak perlu  berjilbab dan menutup aurat, karena jilbab hanya untuk orang berpikiran jorok. Kalau hati sudah baik, tak perlu berjilbab. Lagi-lagi ini pemikiran yang sangat sesat karena telah melawan perintah Allah," sebutnya.
Diungkapkannya, seruan penegakan syariat Islam saat ini makin bergema di provinsi ini. Sambutan berbagai kalangan umat pun makin menguat. Hal itu tidak disukai oleh orang-orang liberal. Sebab akan mengancam kepentingan mereka. Untuk menghambat kebangkitan Islam itu di tengah umat, maka mereka pun menjalankan strategi liberalisasai agama dan budaya di negeri ini dan tentu saja menjadikan umat Isam sebagai sasarannya.
"Pemikiran liberal itu meruntuhkan syariat Islam karena lebih tunduk kepada akal dari pada perintah Al-Qur'an dan Hadits secara literal. Larangan Allah dalam Al-Qur'an itu tidak banyak. Harus diikuti kalau sudah perintah Allah. Jangan kita menggunakan akal untuk tidak mengikutinya," katanya.
Alumni Doktor Fiqh Modern Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry ini juga mengungkapkan, substansi Islam itu adalah Al-Qur'an dan Sunnah serta Ijma' ulama. Sementara eksistensi Islam berupa ajaran tauhid, ibadah dan syiar.
Sedangkan esensi Islam adalah moderat.
"Islam moderat itu sesuai perintah Al-Qur'an, harus seimbang antara dunia dan akhirat. Jangan semata-mata mengejar akhirat, tapi lupa ambil bagian di dunia. Masa Rasulullah juga melarang orang shalat terus tapi tanpa tidur, puasa terus tidak berbuka dan melajang terus tidak mau berumah tangga. Kata Rasullah, saya shalat juga tidur," jelas Jabbar.
Dalam hidup ini, lanjutnya, perbedaan juga menjadi sunatullah yang tidak bisa dihilangkan seperti kaya dan miskin, baik dan mungkar dan lainnya.
"Tidak mungkin kita memberantas kemiskinan seluruhnya, karena itu sudah menjadi ketentuan Allah. Kita hanya disuruh santuni fakir miskin. Begitu juga dengan maksiat, kita tidak bisa menghilangkannya tapi kita hanya disuruh mencegah dan menjauhi kemungkaran. Jika orang miskin dan maksiat sudah hilang di atas permukaan bumi, maka kiamatlah dunia ini karena tidak ada lagi keseimbangan dan perbedaan," sebutnya.
Diberdayakan oleh Blogger.