Kebersihan Masih Jadi Masalah Umat

PIMPINAN Dayah Ummul Ayman Samalanga, Tgk H Nuruzzahri Yahya, menyorot tentang masih rendahnya kesadaran ummat Islam dalam menjaga kebersihan, terutama di toilet dan WC yang berada di lokasi publik. Selain masalah kebersihan, kebanyakan toilet pria di kompleks masjid dan meunasah di Aceh, belum memenuhi standar menjamin kesucian.
Hal tersebut dikemukakan Tgk Nuruzzahri atau yang biasa disapa Waled Nu dalam pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kopi Luwak, Jeulingke Banda Aceh, Rabu (25/6) malam. Pengajian yang dimoderatori oleh Badaruddin SPd MSi, Kasubbid Pembinaan Kurikulum Badan Pembinaan Pendidikan Dayah Aceh, turut dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Aceh, Ibu Sakdan, anggota DPRA, serta kalangan wartawan dan masyarakat umum.
Waled Nu mengatakan, kebersihan dan kesucian toilet merupakan hal kecil yang membawa dampak besar bagi terwujudnya masyarakat madani. Bersuci atau thaharah ini, sebut Waled Nu, adalah pangkal dari semua ibadah langsung kepada Allah.
“Makanya bab thaharah ini berada pada bagian pertama dalam kitab fikih. Tapi coba kita lihat, rata-rata masjid dan meunasah kita, mengabaikan kebersihan dan kesucian toilet. Tapi banyak juga masjid dan meunasah sudah mencoba menjaga kebersihan toilet, misalnya dengan memasang tanda “dilarang menaikkan alas kaki”, tapi masyarakat kita malah melanggarnya,” ungkap Waled Nu.
“Ini bukti bahwa masyarakat kita belum paham dengan ilmu fikih, sehingga belum cukup sadar untuk menjaga kebersihan dan kesucian,” ungkap ulama yang pernah memimpin Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) ini.
Sorotan terhadap belum standarnya kebersihan dan kesucian toilet ini juga disampaikan oleh anggota DPRA terpilih dari Partai Gerindra, Abdurrahman Ahmad. “Bahkan di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh toiletnya masih belum cukup baik. Saya sering mengadukan hal ini ke pengurus Masjid Raya, kadang ditindaklanjuti, tapi terkadang diabaikan,” ujarnya.
Tauhid dan tasawuf
Dalam pengajian tersebut, Waled Nuruzzahri juga memaparkan panjang lebar tentang tiga dasar terciptanya masyarakat madani. Yaitu, masyarakat yang mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Lalu melakukan ibadah kepada Allah, dan mengikuti aturan dalam berhubungan dengan sesama manusia dan alam sekitar. Serta ketiga punya memiliki akhlak yang baik.
Tiga hal prinsip ini, kata Waled Nu, diatur secara rinci dalam Islam ke dalam tiga disiplin ilmu, yakni tauhid, fikih, dan tasawuf (akhlak). “Islam bukan hanya mengatur soal ibadah kepada Allah semata, tapi juga mengatur bagaimana kita harus saling menghargai dan menghormati sesama manusia, serta sikap dan tingkah laku kita terhadap alam sekitar,” ujarnya.
Di antara hal kecil yang dilarang dalam Islam, kata Waled Nu, adalah tindakan memasang drum sebagai barikade di jalan raya, meski untuk kepentingan menggalang bantuan membangun masjid. “Pekerjaan membangun masjid itu pekerjaan mulia. Dalam hadits Rasulllah bersabda, ‘barangsiapa yang membangun masjid, maka Allah akan membangunkan rumah baginya di surga”. Maka kita harus lakukan dengan cara-cara yang mulia, jangan sampai mengganggu ketertiban umum dan pengguna jalan,” ujarnya.
Hal kecil lainnya yang juga kerap diabaikan adalah tindakan memasang lampu rem kendaraan yang menyala terang hingga menyilaukan pengguna jalan di belakangnya. Tindakan ini, kata Waled Nu, termasuk dalam perbuatan haram karena menimbulkan mudharat, bahkan bisa menyebabkan kecelakaan bagi orang lain.
“Jadi Islam mengatur hingga ke hal kecil seperti itu. Islam tidak melulu bicara hukum cambuk, potong tangan, atau hukuman. Islam juga mengatur bagaimana para penjual harus jujur terhadap dagangannya. Saya pikir, jika kita melaksanakan hukum syariat dengan menyeluruh,tidak sepenggal penggal, Insya Allah Aceh akan kembali mencapai kejayaan dan kemakmuran,” demikian Tgk H Nuruzzahri. (nal)
Serambinews.com
Diberdayakan oleh Blogger.