Jauhi Maksiat Agar Terhindar dari Bencana dan Murka Allah

KWPSI,Banda Aceh - Berbagai bencana dan musibah yang terjadi selama ini dalam kehidupan di dunia tidak terlepas dari ulah tangan manusia yang melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah SWT sebagai pencipta alam.

Karenanya, agar terhindar dari bencana dan murka Allah, maka manusia sebagai hamba-Nya harus menjauhi dan berusaha mencegah berbagai kemaksiatan yang terjadi di tengah-tengah umat.

Demikian disampaikan Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh, Drs. Tgk Syamsul Bahri M.​Ag saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (23/12) malam.

"Kita umat Islam khususnya di Aceh, berkewajiban untuk menjauhi maksiat dan juga berusaha mencegah jika ada saudara kita yang mau berbuat maksiat. Karena maksiat itu adalah pengundang bencana dan murka Allah," ujar Tgk Syamsul Bahri yang juga Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini.

Pengajian yang dikuti kalangan wartawan, akademisi, budayawan dan santri tersebut juga turut dihadiri Anggota DPRA, Bardan Sahidi, Kepala Baitul Mal Aceh, Dr Armiadi Musa, dan Direktur Syariah Bank Aceh, Haizir Sulaiman dan ulama muda, Tgk H. Umar Rafsanjani Lc, MA.

Menurutnya, secara umum, ada tiga hal yang bisa diterjemahkan dari berbagai bencana dan musibah yaitu sebagai bentuk Ujian, Teguran, dan Hukuman (Azab) dari Allah

Pertama, ujian. Ini adalah suatu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. Maksud dari Allah memberikan ujian akibat timbulnya bencana ini adalah supaya hamba yang diicintai Allah ini mendapat suatu peningkatan derajat keimanan yang lebih tinggi. Allah bermaksud meninggikan derajat orang-orang yang beriman dengan adanya peristiwa seperti banjir saat ini.

Karena tidak akan pernah dikatakan beriman seseorang sebelum ia diuji (keimanannya). Tentunya, hanya orang yang mampu melewati ujian ini saja yang akan ditinggikan derajatnya oleh Allah. Layaknya seorang siswa yang akan naik kelas, maka ia harus mampu melewati ujian kenaikan kelas dengan nilai yang memadai. Siapa yang mampu mendapat nilai diatas batas minimum kelulusan, maka dia dinyatakan berhasil melewati ujian dan berhak untuk naik kelas.

"Lalu bagaimana agar kita dapat berhasil melewati ujian ini? Maka kunci jawaban yang harus selalu kita ingat adalah “sabar”. Dengan sabar, orang yang beriman mampu melewati ujian tersebut," katanya.

Sabarnya orang beriman juga disebutkan dalam surat Al-Baqarah : 155-157, "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Innalillahi wainnailaihi rajiun” (sesungguhnya kami milik Allah, dan kepadaNya lah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk".

Kedua, bencana sebagai bentuk teguran.
Nabi Muhammad SAW pernah berwasiat kepada para sahabatnya tentang iman. Beliau bersabda bahwa, iman seseorang itu bisa naik, bisa turun. Kondisi dimana iman seseorang sedang turun biasa dikenal dengan istilah “futur”.

Tanda bahwa Allah masih mencintai hamba-Nya meskipun sang hamba sedang futur iman, yaitu dengan cara memberi sebuah teguran dengan cara yang Allah kehendaki. Seperti contoh dengan terjadinya peristiwa banjir atau gempa bumi. Allah mungkin saja bermaksud menjadikannya sebagai sarana teguran bagi hamba-Nya yang sedang futur.

Bisa saja, sebelum bencana banjir ini menimpa, ada sebagian orang dimana dia sering lalai melaksanakan shalat. Shalatnya pun dilaksanakan secara malas-malasan, tidak tepat pada waktunya, dan malas berjama’ah dengan alasan sedang tidak mood, yang kita kenal istilah lainnya adalah futur iman. Lalu kemudian Allah timpakan sebuah bencana kepadanya agar dia menjadi lebih taat lagi kepada Allah.

Adapun mereka yang tetap, dan tidak mau sadar dengan status futurnya, bahkan malah sibuk menyumpah serapahi bencana yang menimpanya, sungguh Allah akan membuatnya semakin merasa menderita dengan keadaan atau kesulitan yang sedang dialaminya itu.

Ketiga, bencana sebagai bentuk hukuman (Azab) Allah. Sebagian dari orang-orang yang ditimpa bencana itu ada juga yang bukan termasuk ke dalam status beriman ataupun futur iman. Kelompok orang ini adalah orang-orang yang ingkar kepada perintah Allah dan selalu melakukan perbuatan maksiat. Yang apabila diberi atau tidak diberi peringatan sama saja bagi mereka, dan mereka tetap tidak akan berubah.

Kelompok seperti inilah yang akan mendapatkan azab dari Allah. Mereka yang ingkar ini dihukum dan dilenyapkan oleh Allah seperti terjadi pada umat nabi-nabi terdahulu sebagaimana halnya umat Nabi Nuh, umat Nabi Luth, Fir'aun, Qarud, Namruz dan lainnya.

"Semoga kita semua terhindar dari status yang ketiga ini. Dan andaipun status yang ketiga ini disandang oleh seseorang, maka jalan satu-satunya tiada lain adalah dengan cara bertaubat, dengan taubatan nasuha," jelas Syamsul.

Lebih lanjut ditambahkannya, bencana yang timbul karena suatu perbuatan maksiat, itu tidak hanya bagi pelaku maksiat saja, tapi juga bagi orang baik-baik yang tidak berusaha mencegah maksiat di tengah masyarakat.

"Allah tidak hanya memberi bencana untuk pelaku maksiat saja, tapi orang baik-baik di sekitarnya juga akan ikut merasakan murka Allah seperti peristiwa tsunami maupun banjir," ungkapnya.

Mengapa mencegah kemaksiatan itu sangat penting? Mari kita analogikan seseorang yang mau minum minuman keras atau perbuatan mesum kita diamkan, maka seolah-olah kita mendorong dia yang sebelumnya sudah berdiri di tepi di jurang neraka. Sikap kita seharusnya menarik dia agar tidak jatuh ke neraka dengan semaksimal mungkin dengan tangan, lisan maupun hati.

Apalagi jika kita memberi fasilitas, memberi izin, dan mendiamkan dan kemaksiatan yang terjadi, itu berbahaya lagi. Karena kemaksiatan itu cepat menular. Jika dibiarkan di satu tempat, maka akan menjalar ke tempat lain karena dianggap boleh. Ketika jumlah penjahat dan orang pelaku maksiat lebih banyak, maka akan memaksa orang baik-baik untuk ikut maksiat juga.

"Pada hari ini, seseorang yang berupaya mencegah kemungkaran sudah bukan rahasia lagi akan di cap radikalis atau Islam fundamental. Ingat bahwa yang kita cari adalah ridha Allah, bukan ridha makhluk," tegasnya.

Diberdayakan oleh Blogger.