Studi Tentang Islam Jangan Lagi Berkiblat ke Barat


Dr Syamsuddin Arif, MA (Foto : hakim.org.my)
Banda Aceh, (Analisa). Kiblat studi Islam di kalangan Perguruan Tinggi Islam selama ini dianggap telah mengalami misorientasi (kehilangan arah) dan disorientasi (kesalahan tujuan).
Perguruan Tinggi Islam realitasnya lebih berkiblat ke nagara-negara Barat dalam wacana studi Islam ketimbang ke negara-negara Islam, sehingga menyebabkan terjadinya dekonstruksi (kerusakan) studi Islam. Meski negara Islam juga berada di arah barat nusantara.

Hal ini disampaikan Dr.Syamsuddin Arif, MA, Profesor Madya dari International Islamic University of Malaya (IIUM) saat mengisi kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa UIN Ar-Raniry di Gedung B Fakultas Tarbiyah, Senin (10/11).

Menurut Syamsuddin Arif, reorientasi studi Islam harus diarahkan ke Timur Tengah sehingga perguruan tinggi bisa menyusun wordview (cara pandang Islam) dalam melihat berbagai persoalan berdasarkan ajaran Islam, bukan dalam perspektif Orientalis Barat yang kerap mencari kelemahan Islam.

Dosen IIUM  ini menambahkan, bahwa orientalisme dan diabolisme adalah kelanjutan dari penjajahan atau imperialisme Barat terhadap dunia Islam yang telah dimulai sejak abad ke-15 Masehi.

Harus Lebih Paham

Karenanya, setiap umat Islam khususnya mahasiswa baik S-1 hingga S-3 sebagai calon intelektual ke depan harus lebih paham akan hal ini, agar kemudian umat Islam bisa bangkit dari penjajahan masa kini.
Pasalnya, paham orientalisme telah menjadi faktor utama pemicu keragu-raguan umat Islam terhadap ajaran Islam, sehingga melahirkan berbagai produk pemikiran yang menyimpang dari ajaran dan akidah Islam.
Kuliah umum yang dimoderatori Yusran Hadi Lc, MA, Ketua Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh ini bertema “Orientalisme dan Diabolisme Intelektual”  diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry bekerja sama dengan Gerakan Indonesia Tanpa JIL dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Aceh.

Pembantu Dekan III Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry, Dr. M. Syahbuddin Gade, MA, saat membuka acara menyampaikan pentingnya para mahasiswa untuk memahami studi orientalisme dalam Islam. Karena orang-orang Barat melakukan penghancuran umat Islam tidak lagi dengan perang, akan tetapi serangan terhadap pendidikan dengan melakukan disorientasi pengetahuan.“Misalnya, banyak studi tentang hadits pada akhir abad ini dibuat oleh orang-orang Barat dengan pemahaman Barat itu sendiri. Padahal itu jauh berbeda dengan tujuan dan pandangan Islam,” kata Syahbuddin. (mhd)

Analisadaily.com
Diberdayakan oleh Blogger.